Saturday, 14 January 2012

Hari esok adalah milik-Nya

Sebelum saya memaparkan maksud dari judul di atas, sebagai pembuka saya ingin bercerita tentang kisah saya minggu lalu. Pulang kantor, teman seruangan yang rumahnya di Bekasi minta diboncengi sampai Pusat Grosir Cililitan (PGC). Ternyata baru keluar jalan di fly over kalibata, jalanan sangat padat dengan kendaraan. Berusaha sabar, saya coba menyusuri kemacetan bersama motor Honda Beat mencari celah yang bisa dilaju. Tapi, justru teman saya yang terus berceloteh mengutuk keadaan saat itu. Mulai dari kesalahan pemerintah, polisi, sampai pedagang kecil, semua diungkapnya.

Saya coba menanggapi dingin apa yang dia katakan dan menganggapnya semua keadaan itu untuk menguji kesabaran saya. Memang tidak seperti biasa jalanan saat itu, Meminjam istilah detik.com adalah “pamer paha” padat merayap tanpa harapan.

Tapi ternyata selepas Pertigaan Condet. Nyaris tidak ada satu kendaraanpun di depan motor saya. Teman saya langsung berseloroh, “Lha.. disini sepi banget, tadi barusan macet banget..!”, kemudian tanpa sadar saya langsung menjawab “Itulah Pak, kita tidak akan tahu di depan seperti apa, yang penting kita terus jalan bukan mengutuk keadaan, karena semua sudah ditentukan taqdirnya”. Ia diam tak menanggapi. Saya cuma tersenyum membayangkan raut wajahnya.

Setelah menurunkan boncengan, saya teringat dengan ucapan saya sendiri. “Ya, mungkin benar apa yang saya ungkapkan!” kata saya dalam hati. Terlepas ia mungkin agak tersinggung karena usianya jauh di atas saya, tapi saya coba mengungkap kebenaran. Semoga menjadi pelajaran untuk saya dan teman saya itu.

Sepanjang sisa perjalanan pulang, saya terus merenungi apa yang saya katakan. Baru saat ini, saya teringat kejadian itu lagi.

Saya mengajak kita semua untuk merenungkan masa depan. Tidak ada yang tahu persis, masa depan seseorang seperti apa. Mungkin ada beberapa gambaran masa depan yang kita ketahui. Misalnya, teman saya yang meyakini ucapan seorang Kyai ahli ilmu falak yang mengatakan ia akan begini dan begitu, atau lebih parah lagi orang yang mempercayai masa depannya karena kata-kata dukun.

Memang ada ungkapan, “Apa yang Anda kerjakan hari ini, menentukan apa yang Anda dapatkan di masa depan”. Saya mengakui keabsahan kalimat ini. Tapi “kepastian” masa depan tak akan ada yang pernah tahu sejelasnya. Itulah keunikan dalam kehidupan kita.

Jika kita sudah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita, mungkin kita tak akan semangat menjalankan kehidupan ini. Kita tahu berapa kadar rizki yang akan kita terima, dengan siapa kita berjodoh, dan kapan kita menjemput maut. Niscaya hidup kita tidak akan sedinamis orang beriman. Kita akan menunggu.! Pasif.! Tak bergairah..!

Mungkin, inilah alasan kenapa Allah merahasiakan apa yang akan terjadi pada kehidupan kita. Dalam surat al Mulk, dijelaskan Allah ingin menguji siapakah diantara kita yang terbaik amalnya. Di atas ketidak pastian taqdir, apakah kita masih meneguhkan iman? Atau, bagaimana cara kita menghadapi ujian-ujian dalam kehidupan kita?

Maka, sekali lagi saya tegaskan. Kita hanya diperintahkan untuk tetap terus berjalan mengikuti dan tunduk terhadap syariat-Nya, dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Seperti hadis Rasul yang menyatakan “Seandainya engkau tahu besok akan kiamat, tapi masih ada bibit tumbuhan di tanganmu, maka tanamlah bibit itu”. Artinya amal soleh tetap terus harus dijalankan dan dilandasi dengan keimanan, karena pengetahuan kita tentang hari esok sangat-sangat sedikit, karena hari esok adalah milik-Nya.

Wednesday, 4 January 2012

Hikmah Paksaan

Salam,

Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Baik positif maupun negatif. Asalkan kita bisa melihat dari sisi “nurani”, dan kita berfikiran baik /husnudzon kita pasti akan dapat mengambil hikmahnya. Begitu juga sesuatu yang dipaksakan. Seperti pemaksaan terhadap diri saya untuk menulis di blog ini. Mudah2an suatu saat saya dapat mengambil hikmah atas pemaksaan hari ini.

Bicara keperpaksaan, jadi ingat tentang kepatuhan alam semesta dengan titah Sang Pencipta. Mereka patuh secara sukarela maupun terpaksa. Tidak mempunyai pilihan seperti manusia, yang diberikan tawaran; mau ingkar atau beriman atas perintah-Nya. Hikmah dari kepatuhan alam semesta untuk mentaati perintah-Nya adalah tetap berjalannya ekosistem bagi kehidupan. Kalo saja matahari “ngeyel” satu hari saja terbit dari utara, maka gempar seluruh jagat raya. Bisa jadi, di pagi hari, kutub utara akan cair, menaikan volume air lautan yang akan menenggelamkan seluruh daratan. Na'udzubillah!

Jadi. Tidak selamanya pemaksaan itu buruk. Tergantung substansi “kenapa harus dipaksa?”. Seperti saya mendengar cerita dari teman-teman yang cukup “sukses” di usia muda. Pada waktu kecil mereka dipaksa mengikuti kursus ini, kursus itu, pelatihan ini, pelatihan itu oleh orang tuanya yang akhirnya kini mereka memiliki berbagai keahlian yang mumpuni. Berbeda dengan saya, yang tidak dipaksa ikut ini dan itu, akhirnya pada saat mereka enjoy menikmati kesuksesannya, saya harus bekerja keras mengejar ketertinggalan. Jadi memang keterpaksaan itu kadang diperlukan.

Bagaimana dengan pernikahan yang dipaksa?. Seingat saya, banyak sekali teman yang bertanya tentang masalah ini. “kalau bercerai, apakah ia jodoh?”, “kan untuk seumur hidup, kenapa ga diberi kebebasan untuk memilih?”. Atau banyak variasi pertanyaan lainnya. Menurut saya, kalo pernikahan dipaksakan seperti kisah Siti Nurbaya yang melegenda itu memang tidak baik, karena ada unsur balas budi atau kepentingan lain di situ. Kalo pernikahan dipaksakan karena untuk menyelamatkan diri dari hawa nafsu dan maksiat yang lebih besar, maka bisa jadi pernikahan ini menjadi ibadah. Apalagi dengan meminta pada Allah untuk diberikan pasangan yang terbaik. Saya ungkapan karena “nikah” adalah ibadah, dan ibadah itu kadang bisa (baca:harus) dipaksakan pada mulanya. Apalagi untuk yang sudah mampu dan wajib menikah. Lihat saja, banyak yang sudah mapan, tapi belum berani menikah. Apa perlu dipaksa?. Padahal, banyak yang tidak dipaksapun akhirnya menyesal menikah. Menyesal kenapa baru sekarang menikah! hehee.

Intinya adalah; ketika Allah SWT telah memberikan ketentuan berupa syariat, maka sesungguhnya untuk kebaikan manusia, karena Allah tidak pernah mendzolimi hamba-Nya. Nah, ketika diri kita yang dikuasai oleh akal dan hawa nafsu harus dipaksakan untuk tetap menjalankan perintahnNya. Seperti membiasakan diri membaca al qur’an, pada awalnya mualesnya minta ampun, tapi harus tetap dipaksakan yang akhirnya menjadi kebutuhan. atau banyak lagi jenis ibadah yang pada mulanya harus dipaksakan, tapi akhirnya jadi kenikmatan.

Semoga kita dapat mengambil hikmah sekecil apapun dalam hidup ini.

Wassalam

Tuesday, 4 January 2011

Hikmah bergerak...

Seorang teman yang kini sudah menjadi pejabat tinggi di salah satu lembaga negara pernah menasehati saya bahwa harus tetap bergerak. "Kita harus terus bergerak seperti air yang mengalir.. lihat saja air, kalo ia diam maka ia akan bau". katanya.